Langkah pertama mencapai keberhasilan adalah melakukan suatu pekerjaan kecil dengan sebaik-baiknya dan dengan cara yang benar, hingga keberhasilan dapat tercapai. Setelah itu lakukanlah pada hal-hal yang lebih besar

Welcome to Ogie Boys Site


Kau Masih Kekasihku....
Sedih hatiku bila ingat tentangmu, aku yang pernah cinta padamu.. Namun apalah cinta tanpa sambutmu, apakah cinta telah lepas dariku.. Mungkin akan selamanya aku selalu mencintaimu.. Mungkin apakah daya biLa diriku masih cinta padamu.. Apakah memang cinta selalu buatku sedih.. Seperti apakah cinta yang lain..?

 

JADILAH PENGUSAHA

Kerja Keras dan Motivasi
Sering kali kita dengar perkataan "Dia sudah hebat sekarang, punya lima toko, karyawan lebih dari 30 orang, omzet sekian milyar... padahal dulu, dia bukan apa-apa". ada yang mulai dari memikul tepung beras sendiri, jualan panci sendri door to door, mengantar paket sendiri, berbecek-becek jualan kue ke pasar tradisional sendiri. Semuanya dilakukan sendiri.
Selain kisah bagaimana mereka mendalami bisnis dari nol, kisah lain adalah kisah jatuh bangun perjalanan bisnis pengusaha. Dimana seorang pengusaha sukses dengan asset trilliunan rupiah menceritakan dalam sebuah wawancara bahwa dia sebelum sukses luar biasa seperti sekarang ini, pernah bangkrut sampai lima kali. Dan bangkrutnya yang terakhir itu betul-betul harus menjual seluruh rumah, mobil mewah, harta benda, hingga nyaris tak tersisa sedikit pun. Namun cerita bangkrut, bangkit, bangkrut, bangkit, bangkrut dan akhirnya bangkit lagi diakhiri dengan heppy ending. Kisah lain, penulis memiliki teman pengusaha yang dulu pada saat jaya-jayanya punya rumah besar, Mercedes benz "new eyes", namun sekarang beliau sedang bangkrut, hingga sempat kemana-mana naik bis. Kemarin beliau bisnis coklat, menjadi besar, ekspansi, bangun banyak gudang, tapi kemudian kena krismon. Sekarang ini, dengan modal dari teman-teman bisnisnya yang masih percaya, beliau memulai dengan modal kecil karena masih trauma dengan kegagalan kemarin. Penulis melihat sendiri susahnya beliau ini mulai membangun bisnisnya. Kadang terpikir "dengan keterbatasan modal seperti itu, gimana bisa berkembang ya?". Namun demikian, dari pembicaraan dan diskusi, tidak pernah sedikit pun terdengar kata-kata "menyerah". Yang ada daLam kamus dibenaknya adalah kerja keras dan sukses. Titik!.
Poin yang dapat penulis angkat di sini adalah bahwa membangun usaha itu perlu perjuangan, darah dan air mata. Dalam bahasa dakwahnya, juga dapat dikategorikan dalam salah satu bentuk jihad. Mulai dari memilih, mempelajari, mengembangkan dan mempertahankan, semuanya itu memerlukan proses dan waktu. Banyak orang melihat kesuksesan itu dalam kerangka jangka pendek saja, tanpa melihat "cerita di balik sukses". Seperti juga jalan dakwah yang panjang, jalan membangun usaha itu pun panjang dan penuh perjuangan. Perlu stamina dan kekuatan mental yang lebih dari hanya menjadi seorang pegawai perusahaan, apalagi perusahaan asing.
Mental baja (dapat diterjemahkan sebagai "motivator") ini barangkali bisa kita hubungkan dengan orang sukses menurut kriteria Islam. Yaitu, sukses dunia dan akhirat, dimana dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga, ternyata sembilan itu berfrofesi pedagang (baca: pengusaha).

 

Back to TOP

Ketahui Bisnis Anda (Knowledge) dan Kerjakan Sendiri
Yang kedua adalah, bahwa dalam membangun bisnii itu perlu pemahaman (knowledge). Perhatikan bagaimana pengusaha sukses memulai dari berjualan sendiri, masuk pasar becek sendiri, menangkap ikan sendiri, hingga akhirnya setelah menjadi perusahan besar, menjadi korporasi, bisa menyewa tenaga professional, memberi arahan dari kantor ber AC di tengah kota dsb.
Ada kesalahan persepsi beberapa para aktivis kita yang melihat bisnis ini sebagai sesuatu yang sederhana, atau tepatnya menyederhanakan masalah. Sering kali penulis mendengar muslim berucap "kita kumpulkan modal dengan network kita, kemudian kita sewa kantor, kita sewa manajer, maka nanti kita tinggal men "direct" saja, sehingga kita bisa menjadi direktur perusahaan, dan lapis kedua kita yang kerja" kemudian ditambahkan "paling kita kontro l sepekan sekali, jadi kita bisa ngajar dsb".

 

 

 

Penulis jamin kalau memulai bisnis dengan mental seperti ini, merupakan cara efektif untuk gagal.
Memulai suatu bisnis harus berdasarkan pemahaman bidang usaha yang kita geluti. Pemahaman bidang usaha ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, dapat melalui sumber informasi: buku, majalah dsb, diskusi dengan ahlinya, atau cara konvensional tapi paling efektif, yaitu langsung terjun.
Kalau yang namanya langsung terjun belajar berenang, pasti mulai dari kolam yang dangkal dulu, baru sedikit demi sedikit meningkat. Demikian juga dengan bisnis, harus dari yang kecil dulu, selain memang modal yang kita miliki tidak besar, tentunya juga mengingat "proses belajar". Seorang kawan pengusaha selalu berucap "untuk memulai bisnis, dua tahun pertama merupakan ongkos belajar" artinya dalam dua tahun itu, akan proses dimana mungkin kita ditipu, rugi operasional, kalah negosiasi dsb. Baru setelah itulah, kita dapat mulai menikmati "hasil berlajat kita".

Membangun Pengalaman (Experience)
Dan yang ketiga, akan dilihat "track record" kita. Semakin lama kita berkecimpung dan menekuni suatu bidang bisnis, maka orang akan melihat kita sebagai pebisnis yang berpengalaman, dan kepercayaan orang akan meningkat pada kita. Ingat cerita pengusaha yang bangkrut sampai lima kali? Bisa bangkit sampai lima kali karena adanya network dan kepercayaan orang, dan kepercayaan itu bisa di dapat dari karakter dan pengalaman.
Oleh karena itulah, mulailah dari sekarang, kita siapkan dan tempa mental kita memasuki dunia bisnis. Kita mulai "belajar" bidang usaha kita, dan kita "bangun" track bisnis kita serta kredibilitas kita dalam dunia bisnis. Bisnis bukanlah semata-mata konsep, tapi motivasi, pemahaman dan pengalaman. Sehingga, nanti di tahun 2009 atau 2013, anda bisa wawancara dengan majalah dan bilang "kalau ingat perjuangan saya memulai bisnis di akhir tahun 2006...".

Kepribadian Kewirausahaan
Penulis pernah menanyakan pada seorang Dirjen Standarisasi, Kementrian Ekonomi Taiwan mengenai strategi mereka dalam membangun perekonomian Taiwan. Taiwan adalah sebuah negara yang bisa dibilang 99.9% perusahaannya adalah UKM. Taiwan adalah sebuah negara yang memiliki cadangan devisa ketiga terbesar di dunia, dengan income per capita 14.000 USD (dibandingkan dengan Indonesia yang USD 600). Taiwan juga negara pengekspor alat-alat elektronik dan industri yang porsinya hampir 70% dari seluruh GDP.
Jawaban Dirjen kira-kira begini: "Kami tidak pernah merencanakan perusahaan menjadi UKM. Barangkali ini jadi berkembang seperti ini karena kebudayaan. Orang Chinaitu budayanya bisnis. Mereka tidak pernah mau jadi pegawai. Sehingga, bila bekerja pada orang, selalu sebentar, dan kalau sudah tahu bisnisnya, maka akan membuka sendiri". Hal ini berbeda dengan Korea Selatan, yang karakter mereka adalah profesional, sehingga perusahaan yang berkembang pun perusahaan konglomerasi.
Kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan pekerjaan berdasarkan sumber daya yang baru. Kewirausahaan adalah sebuah mental, sikap dan perilaku yang tidak muncul begitu saja. Yang agak repot di Indonesia adalah barangkali karena Indonesia memiliki kerajaan dan penjajahan yang lama, sehingga budaya pun budaya abdi dalem, budaya terjajah, dan akhirnya menjadi budaya profesional.
Untuk dapat melihat apakah anda dapat memiliki krakter wirausahawan, beberapa pengusaha sukses dunia membuat semacam "self test" yang dikembangkan, yang salah satunya dikembangkang oleh Lilian Vernon. Selamat belajar jadi pengusaha...!

 

Back to TOP

Artikel Humor